Tim peneliti di Alberta, Kanada, menemukan ikan spesies baru yang mengubah sejarah evolusi otophysan, kelompok besar ikan yang saat ini mendominasi ekosistem air tawar. Spesies baru ini, Acronichthys maccognoi, yang ditemukan sudah menjadi fosil, menunjukkan adaptasi awal untuk sistem pendengarannya yang unik. Bukti menunjukkan bahwa otophysan berpindah dari laut ke sungai lebih dari sekali. Hal ini membuat para ilmuwan bingung tentang perjalanan global purba mereka. Otophysan adalah kelompok besar ikan yang mencakup ikan lele, ikan mas, dan ikan tetra. Saat ini kelompok ikan itulah yang mencakup dua pertiga dari seluruh spesies air tawar. Fosil Ikan Spesies Baru Spesimen spesies baru ini diteliti oleh para peneliti dari Western University di Alberta, Royal Tyrrell Museum of Palaeontology, dan para kolaborator internasional. Spesies ini merupakan kerangka ikan dengan panjang sekitar 4 cm. Ikan ini hidup di periode Kapur Akhir, yakni zaman Tyrannosaurus Rex yang ikonis, sekitar 100,5 juta hingga 66 juta tahun lalu. Para peneliti telah memaparkan temuannya tersebut dalam sebuah makalah studi yang terbit di jurnal Science pada 2 Oktober 2025. "Alasan Acronichthys begitu menarik adalah karena ia mengisi kekosongan dalam catatan kita tentang kelompok besar otophysan. Ia adalah anggota tertua di Amerika Utara dalam kelompok tersebut dan menyediakan data yang luar biasa untuk membantu mendokumentasikan asal-usul dan evolusi awal begitu banyak ikan air tawar yang hidup saat ini," kata Neil Banerjee, profesor ilmu kebumian Western University sekaligus penulis studi tersebut seperti dikutip dari keterangan tertulis Western University. Dalam studi ini, Neil Banerjee berkolaborasi dengan tim internasional yang terdiri dari Lisa Van Loon, profesor ilmu kebumian di Western University, Don Brinkman, kurator emeritus di Royal Tyrell Museum, Juan Liu dari University of California, Berkeley, dan Alison Murray dari University of Alberta. Otophysan memiliki ciri khas tersendiri karena empat vertebra pertamanya termodifikasi untuk mengirimkan getaran ke telinga dari kantung renang (organ internal berisi gas yang memungkinkan ikan mempertahankan posisinya di dalam air tanpa mengeluarkan energi yang signifikan). Ini pada dasarnya berfungsi seperti telinga manusia. Sistem pendengaran tersebut mudah terlihat dengan mata telanjang pada kerangka fosil Acronichthys yang ditemukan. Van Loon, menggunakan garis sinar sinkrotron di Canadian Light Source di Saskatoon, Saskatchewan, dan Advanced Photon Source di Lemont, Illinois, menangkap tampilan yang lebih canggih dan detail dari ikan itu dengan pemindaian tomografi terkomputasi (mikro-CT). Baca Juga: Warga Australia Tak Sengaja Memakan Ikan Spesies Baru Pemindaian mikro-CT bersifat non-destruktif (penting ketika mempelajari fosil prasejarah), menghasilkan citra sinar-X beresolusi tinggi yang menciptakan model virtual 3D objek dengan mengambil serangkaian proyeksi sinar-X 2D saat sebuah objek, dalam hal ini Acronichthys, dirotasikan. "Banyak spesimen fosil yang dikumpulkan oleh Royal Tyrrell Museum sangat rapuh, dan beberapa tidak mungkin diekstraksi dari batuannya sendiri, sehingga pemindaian mikro-CT tidak hanya menyediakan metode terbaik untuk memperoleh gambar detail tentang apa yang ada di dalamnya, tetapi juga merupakan cara teraman untuk menghindari kerusakan fosil secara menyeluruh," kata Van Loon. Asal-usul Ikan Air Tawar Penemuan Acronichthys selain memperkenalkan spesies baru ke dalam catatan paleontologi, juga menyediakan data penting untuk melacak asal-usul otophysan, karena kelompok besar ini dipahami berawal sebagai spesies laut (air asin) sebelum bertransisi menjadi spesies air tawar. Penemuan ini menunjukkan bahwa transisi dari spesies laut ke air tawar terjadi setidaknya dua kali selama evolusi otophysan. Studi ini memperkirakan waktu divergensi baru bagi otophysan dari spesies laut ke air tawar sekitar 154 juta tahun lalu (periode Jura Akhir). Ini adalah periode setelah Pangea, superbenua, mulai terpecah sekitar 200 juta tahun lalu. Para peneliti masih mencoba memahami bagaimana Acronichthys yang mungil ini berpindah dari satu benua ke benua lain jika mereka tidak dapat berenang melintasi samudra air asin. Pertanyaan ini muncul karena nenek moyang air tawarnya kini hidup di setiap benua kecuali Antartika. Don Brinkman mengatakan bahwa selama ini para ilmuwan lebih banyak meneliti dinosaurus ketika ikan purba. "Dinosaurus cukup menarik, jadi banyak waktu dan upaya telah difokuskan pada mereka sehingga kita tahu banyak tentang seperti apa mereka dulu, tetapi kita baru menyentuh permukaannya dalam hal memahami keanekaragaman ikan air tawar prasejarah," kata Brinkman. Brinkman menegaskan, "Masih banyak yang belum kita ketahui, dan sebuah situs fosil di Kanada ini memberi kita kunci untuk memahami asal-usul kelompok yang kini mendominasi sungai dan danau di seluruh dunia." ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.