Hanya ada segelintir monarki di abad ke-21, dan salah satunya adalah kerajaan Himalaya di Nepal. Di abad ke-18, Dinasti Shah memimpin Kerajaan Nepal. Anehnya, nama keluarga monarki Nepal mirip dengan nama Shah Iran. Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu tentang sejarah dan asal-usulnya. Apakah Dinasti Shah Nepal berasal dari Iran? Sejarah Nepal di Lembah Kathmandu Sejarah Nepal dimulai dengan kedatangan suku Kirati di Lembah Kathmandu pada abad ke-7 dan ke-8. Suku Kirati memerintah Lembah tersebut selama 1225 tahun dengan 28 raja yang memimpin kerajaan selama periode tersebut. “Nepal menjadi wilayah politik yang dipersatukan oleh raja atau penguasa dari berbagai kerajaan,” tulis John Misachi di laman World Atlas. Salah satu raja yang memainkan peran penting dalam penyatuan Nepal adalah Prithvi Narayan Shah, yang naik takhta Kerajaan Gorkha pada tahun 1743. Ambisi politiknya mendorongnya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil dan merebut wilayah-wilayah lain. Seperti Nuwakot, Lamjung, Tanahun, Kirtipur, dan Makawanpur. Perebutan wilayah itu dilakukan lewat perjanjian dan penaklukan militer. Raja Prithvi Narayan Shah menamai wilayahnya Kerajaan Gorkha. Nama kerajaan tersebut kemudian diubah menjadi Kerajaan Nepal pada tahun 1930 oleh Raja Tribhuvan Bir Bikram Shah. Asal-usul Dinasti Shah dari Kerajaan Nepal Para Shah Nepal mengeklaim asal-usul mereka dari Sisaudiya Rajput di Chittaude, India. Dilansir dari laman Nepa Laya, para Shah Nepal melarikan diri ke Nepal karena penjajah Muslim. Beberapa cendekiawan menelusuri asal-usul Shah hingga Jain, yang mengadopsi gelar Turki Khan untuk menunjukkan dirinya sebagai kepala suku atau pemimpin. Penguasa lain bernama Bhupal mendirikan kerajaan di Bhirkot, yang sekarang merupakan distrik Syangja. Sebagian besar kerajaan tersebut kini menjadi distrik di Nepal. Seorang bangsawan Bhirkot, Kulmandana Khan, mengambil alih Kaski dan menerima gelar Shah (istilah Persia) dari Kaisar Delhi, India. Putranya, Yashobarmba, menjadi raja Lamjung. Putra Yashobrahma, Dravya Shah, mengambil alih wilayah Gorkha, tempat munculnya pasukan Gurkha yang terkenal. Keturunan Dravya, Prithvi Narayan Shah, raja Gorkha, mengalahkan berbagai kerajaan dan membentuk sebuah kerajaan. Kebijakan ekspansionis kemudian dilanjutkan oleh keturunannya. Prithvi Narayan Shah yang kemudian mendirikan Kerajaan Nepal. Kerajaan Nepal bertahan selama 240 tahun sebelum dihapuskannya Monarki Nepal pada tahun 2008. Baca Juga: Kukri, Pisau Nepal yang Harus 'Mencicipi Darah' jika Dikeluarkan dari Sarungnya Selama periode monarki, Nepal diperintah oleh Dinasti Shah yang berkuasa dengan tingkat kekuasaan yang berbeda-beda. Kerajaan Nepal menganggap agama Hindu sebagai agama kerajaan hingga kerajaan tersebut dihapuskan. Saat ini, negara ini adalah negara sekuler dengan semua agama diperlakukan setara. Jatuh bangun keluarga Kerajaan Nepal Cucu Prithvi Narayan Shah, Rana Bahadur Shah, mengangkat putra bungsunya, Girvan Yuddha, sebagai raja. Pengangkatan itu merusak budaya “Hak Anak Laki-laki”. Setelah preseden ini, para ratu yang ambisius mencoba menjadikan putra-putra mereka raja. Hal ini menyebabkan meletusnya dalam konflik istana, mengalihkan kekuasaan ke tangan Dinasti Rana. Tiongkok dan Inggris memainkan peran penting dalam tindakan dan kebijakan Kerajaan Nepal sepanjang keberadaannya. Nepal merupakan negara bawahan Kekaisaran Tiongkok setelah invasi Tibet yang gagal pada tahun 1790-an. Nepal menjadi protektorat de facto Inggris setelah Perang Inggris-Nepal. Inggris menguasai sebagian besar wilayah Nepal. Inggris memengaruhi kegiatan Dinasti Rana yang menjauhkan raja dari kegiatan negara. Dinasti Rana bersekutu dengan Inggris. Maka, ketika kolonialisme berakhir di India, kekuasaan Dinasti Rana pun ikut berakhir di Nepal. Setelah percobaan singkat dengan demokrasi, raja-raja Dinasti Shah kembali merebut kekuasaan. Setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Rana, Nepal bergantung pada bantuan asing untuk pembangunan infrastruktur. Bantuan dari negara-negara komunis membentuk komunisme secara positif dan memperkuat partai-partai komunis di Nepal, yang kemudian menyebabkan jatuhnya monarki Dinasti Shah. Pemberontakan dan pertempuran di Kerajaan Nepal Selama era kerajaan Nepal, terjadi pertempuran kecil. Ada embantaian Chhintang, yang menuntut demokrasi. Kemudian Pemberontakan Jhapa yang dipimpin komunis, tetapi keduanya tidak mengancam monarki. Setelah People’s Movement pada tahun 1990, demokrasi dipulihkan. Namun pemerintahan yang dipilih secara demokratis dan belum matang mencoba menekan kelompok sayap kiri ekstrem di Thabang. Peristiwa itu menyebabkan 6.000 orang mengungsi, dan 130 orang ditangkap tanpa surat perintah. Pada akhirnya, memicu perang saudara Nepal. Konflik antara Democratic Parties dan Communist Movement memanas pada 1 Juni 2001, setelah pembantaian kerajaan. Laporan Komite Tingkat Tinggi menyatakan bahwa Putra Mahkota Dirpendra telah melakukan pembunuhan raja dan anggota keluarga kerajaan lainnya. Pada saat itu, Putra Mahkota yang sedang sekarat dinyatakan sebagai raja, yang semakin merusak citra keluarga kerajaan. Baca Juga: Gurkha, Kisah Tentara Nepal yang Direkrut oleh Angkatan Darat Inggris Kematian Dirpendra memperburuk situasi, karena mahkota diserahkan kepada Pangeran Gyanendra. Rakyat menjadi curiga kepadanya. Pasalnya, secara ajaib kerabat dekatnya, yaitu putra, putri, dan istrinya, selamat dari pembantaian kerajaan. Pangeran Paras Shah, putra Raja Gyanendra yang baru diangkat, merupakan sosok yang terkenal kejam. Perjalanan menuju Republik Nepal Para pendukung monarki telah mencoba mengalihkan kesalahan kepada aktor eksternal dan memproyeksikan ketidakbersalahan Gyanendra dan Dipendra. Hipotesis semacam itu menyiratkan bahwa para penguasa Nepal berada di bawah kekuasaan kekuatan asing. Kekuatan asing turut menentukan kapan seorang raja akan wafat dan apa yang akan dikatakan raja berikutnya. Para pendukung monarki juga menolak skenario semacam itu, membuat semua skenario yang mungkin menjadi kontroversial. Karena citra kerajaan yang menurun, kaum Maois mulai menuntut bentuk pemerintahan republik. Awalnya, ketika kaum Maois memulai perang saudara, mereka hanya menuntut penghapusan semua hak istimewa khusus raja dan keluarga kerajaan. Pada 1 Februari 2005, Raja Gyanendra mengumumkan keadaan darurat. Sang raja menangkap anggota parlemen. Ia pun mengisolasi dirinya dari kekuatan demokrasi. India berhenti memasok senjat, dan Tiongkok mulai memasok senjata ke Nepal. Raja Gyanendra juga melarang Tibetan Refugee Welfare Office dan melobi keanggotaan penuh Tiongkok di SAARC. Tindakannya itu semakin mengisolasinya dari India dan negara-negara Barat. Akibatnya, kekuatan demokrasi dan Maois akhirnya mencapai kesepakatan, yang memicu pembentukan partai politik dan protes massa di Nepal. Pada April 2006, mantan Putra Mahkota Kashmir, kerabat Raja Gyanendra, dan Anggota Parlemen India, Karan Singh, datang ke Nepal. Mereka datang sebagai utusan khusus. Raja Gyanendra tidak lagi mendapat dukungan dari kerabatnya yang berasal dari berbagai keluarga kerajaan India. Dan ia pun terpaksa tunduk pada aliansi demokrasi. Gyanendra dan Paras sangat tidak populer. Karena itu, panglima tertinggi tentara Nepal, dalam upaya menyelamatkan monarki, mengusulkan agar cucu Gyanendra diangkat sebagai raja baru. Namun, Raja menolak, dan tentara kemudian menghindari keterlibatan lebih lanjut dalam politik. Pada 28 Mei 2008, Constituent Assembly mendeklarasikan Nepal sebagai Republik Demokratik Federal, menghapuskan monarki. Gyanendra menyampaikan pernyataan pers dan menyerahkan mahkota serta tongkat kerajaan kepada Pemerintah Nepal untuk diamankan. Ia berharap untuk dapat terus bekerja sama dengan Pemerintah Nepal di masa mendatang. Para penganut monarki masih percaya bahwa ini bukanlah akhir dari Dinasti Shah. “Sebagian besar wilayah Republik Nepal saat ini diperoleh dan dibentuk sebagai hasil dari aktivitas dan penaklukan Kerajaan Nepal,” ungkap Misachi. Raja Prithvi Narayan Shah berhasil menyelamatkan kerajaan-kerajaan kecil yang semakin lemah akibat konflik dan pertempuran internal. Ia menyatukan kerajaan-kerajaan ini menjadi satu kerajaan yang lebih kuat yang bertahan selama 240 tahun. Kerajaan terdahulu juga menghargai beberapa tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Nepal hingga saat ini. ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.