Nama Saito Hajime adalah gema yang menakutkan dari era Bakumatsu Jepang, membangkitkan bayangan bilah pedang yang cepat dan mematikan. Ia adalah salah satu "Serigala Mibu," kapten unit ketiga dari pasukan polisi khusus Shinsengumi, yang bertugas menjaga ketertiban yang berlumuran darah di Kyoto selama gejolak politik hebat pada abad ke-19. Sosok ini, yang terlahir sebagai Yamaguchi Hajime pada tahun 1844 di Edo (sekarang Tokyo), adalah ahli pedang yang efisiensi dan kesetiaannya yang dingin kepada Keshogunan (Bakufu) membuatnya menjadi algojo yang dihormati sekaligus ditakuti dalam barisan Shinsengumi. Catatan sejarah tentangnya sering kali minim dan diselimuti misteri, bahkan meninggalkan Edo setelah remaja karena perselisihan yang dikabarkan mengakibatkan korban jiwa. Perjalanan hidupnya, dari belajar ilmu pedang, diduga gaya Itto-ryu yang dikenal karena serangan yang kuat, hingga menjadi seorang kapten, adalah narasi tentang ketegasan yang brutal dan kemampuan bertarung yang luar biasa. Sosok yang teguh ini, dengan reputasinya yang tak kenal ampun dalam pembersihan internal dan pembunuhan musuh, semakin menarik perhatian dunia modern berkat inkarnasinya dalam budaya populer. Terutama dalam serial manga dan anime Rurouni Kenshin (dikenal juga sebagai Samurai X), di mana Saito digambarkan sebagai pendekar pedang kidal yang tangguh dan saingan utama sang protagonis, Himura Kenshin. Penggambaran ini mempopulerkan karakteristik uniknya, termasuk postur kidal yang dirumorkan dan, yang paling terkenal, teknik tusukan super cepat yang disebut Gatotsu. Namun, seberapa akuratkah potret fiksi ini dengan kenyataan sejarah, terutama menyangkut pedang legendaris yang ia bawa dan gerakan khasnya? Apakah teknik Gatotsu yang sangat ikonik itu benar-benar ada dalam gudang senjata Kapten Saito yang asli? Kapten Shinsengumi: Pedang dan Peran Sang Algojo Sejak bergabung dengan Shinsengumi sekitar tahun 1863, seperti dilansir laman japanesesword.net, peran Saito jauh melampaui tugas kepolisian biasa. Ilmu pedangnya praktis, mematikan, dan mengutamakan serangan cepat dan tegas, sebuah gaya yang sangat cocok dengan perannya sebagai seorang algojo. Baca Juga: Kawakami Gensai, Sosok Samurai yang Menginspirasi Rurouni Kenshin, Hidupnya Tragis Keterlibatannya dalam konflik-konflik penting, seperti Insiden Ikedaya, di mana ia memainkan peran signifikan dalam melumpuhkan aktivis anti-shogunate, mengukuhkan posisinya. Meskipun jumlah pasti korban yang ia bunuh tidak diketahui, tak diragukan lagi Saito memainkan peran penting dalam sejarah Keshogunan akhir. Pedang yang dibawa oleh Saito masih menjadi bahan spekulasi. Secara umum, ia diyakini membawa katana berkualitas tinggi, bilah standar kelas samurai pada periode Bakumatsu, yang praktis dan tahan lama untuk tarikan cepat dan pertarungan. Salah satu rumor yang gigih menyebutkan pedangnya memiliki bentuk kissaki moroha zukuri, sebuah ujung tiga sisi yang mirip "moncong babi" yang ideal untuk menusuk. Namun, bukti konkret yang mendukung penggunaan bentuk bilah yang mungkin lebih rapuh ini kurang. Aspek lain yang menarik adalah postur kidalnya yang dirumorkan. Jika benar, posisi yang tidak biasa ini akan memberinya elemen kejutan, memaksa lawan untuk menyesuaikan taktik mereka di tengah pertarungan. Battōjutsu (ilmu pedang tarikan cepat) kidalnya akan memungkinkan serangan dari sudut yang tak terduga, memberikan sedikit keuntungan penting dalam jarak dekat. Minoru Nakakuro via Wikipedia Inilah sosok asli Saito Hajime dalam Rurouni Kenshin. Gatotsu: Fiksi atau Kenyataan Sejarah? Teknik paling ikonik yang dikaitkan dengan Saito Hajime dalam budaya populer adalah Gatotsu, yang digambarkan sebagai gerakan tusukan kidal yang cepat, sering kali dari posisi rendah. Dalam Rurouni Kenshin, teknik ini menjadi ciri khasnya. Namun, perlu dicatat bahwa Gatotsu seperti yang digambarkan dalam fiksi adalah interpretasi romantis dari gaya bertarung Saito yang sebenarnya. Meskipun Saito terkenal karena battōjutsu (tarikan pedang) yang cepat dan menentukan, dan tusukan agresifnya mungkin merupakan bagian dari repertuarnya, tidak ada dokumentasi historis yang menyebutkan nama "Gatotsu" untuk teknik pedang tertentu yang ia gunakan. Gerakan tusukan, mungkin terinspirasi oleh gaya bertarungnya yang langsung dan agresif, kemungkinan besar telah diubah secara signifikan untuk tujuan dramatis dalam manga dan anime. Keefektifan dan kepraktisan Gatotsu yang digambarkan (tusukan tunggal yang kuat) dalam pertempuran nyata sering dipertanyakan oleh sejarawan dan seniman bela diri, karena medan perang biasanya menuntut pendekatan yang lebih serbaguna daripada hanya mengandalkan satu gerakan khusus. Oleh karena itu, Gatotsu yang kita kenal sebagian besar adalah kreasi fiksi, meskipun mengambil inspirasi dari kemampuan luar biasa Saito sebagai pendekar pedang kidal yang ahli dalam battōjutsu. Baca Juga: Kisah Nyata Shinsengumi dalam Rurouni Kenshin, Prajurit Elite 'Pemecah' Sejarawan Warisan Saito dalam Budaya Populer Penggambaran Saito di Rurouni Kenshin, di mana ia adalah agen polisi di era Meiji yang setia pada prinsip-prinsipnya ("Aku adalah kejahatan dengan kecepatan di atas roda, Sinsengumi!"), telah secara signifikan meningkatkan popularitasnya. Serial ini mempertahankan banyak karakteristik historisnya—sikap dingin, ilmu pedang yang luar biasa, dan postur kidal—tetapi mengambil kebebasan kreatif. Persaingan sengitnya dengan Kenshin, misalnya, sebagian besar difiksikan untuk efek dramatis, menutupi perbedaan utama antara sosok historis dan padanannya dalam fiksi. Popularitas abadi dari penggambaran ini, dengan teknik khas Gatotsu-nya yang fiksi, memastikan bahwa warisan Saito Hajime, pendekar pedang yang tak terduga dari Shinsengumi, akan terus memikat dan memicu perdebatan di antara para penggemar sejarah dan fiksi. ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.